Haruskah saling tak acuh sementara rasa itu masih mengepakkan sayap keakuannya?
Inilah kesendirian paling getir. Bersatunya rasa tak berujung pada kebersamaan dan kepemilikan raga.
Derak getar itu nyaris seperti ranting pohon layu yang patah. Meradang tersapu rasa yang membisu kelu.
Haruskah gelisah menertawakanku? Membaca gerak bibirmu di antara lemah hati yang mendambamu dengan rindu bertubi-tubi?
Aku butuh tanganmu untuk menyeka air mata ini. Boleh aku pinjam selamanya? Semoga, kau izinkan.
Di puncak pengharapan tertinggi, kuserahkan lidah dan mataku untuk mengawal cintamu. Ketika nanar bermuram, satu kerling matamu yang kugugat. Menjadilah kunang-kunang di jelaga mataku.
-Dear You,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar