Jumat, 30 November 2012

Dear You

"Selamat Malam, Cinta"

Sayangku, mataku tak bisa terpejam, pikiranku mengelana entah kemana. Mungkin, saat ini sedang tertuju ke arahmu di ujung dunia sana. Hanya sekedar untuk memuaskan rasa penasaran, "Mimpi apa kamu malam ini? Apakah tentangku.... atau dia?"

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maafkan untuk kebisuanku. Hanya karena tak mauku tersilap kata demi amarah durja untuk kesekian kali. Baikmu kupinta dalam doa malam ini.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semoga kau mendapatkan bulannya. Aku hanya ingin bermimpi saja, tentangmu.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Selamat Pagi, Mata"

Selamat pagi, Mata.
Apa aku terlambat mengucapkannya?

Pagi selalu sempurna untuk sebuah awal yang terjaga.
Harapan itu, dan segala apapun tentangmu.
Dulu, ada satu keajaiban yang membangunkanku dari ruang hampa, dan kamulah orangnya.
Kini, aku masih percaya, akan ada keajaiban kedua.
Siapa lagi kalau bukan kamu muaranya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cukup dengan memikirkanmu, pagiku mengucap selamat tinggal pada basi. Selamat pagi. Jaga diri, jaga hati.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semua masih tentangmu. Mimpi itu, harapan itu. Tak ada yang berubah. Setiap incinya begitu berarti. Selamat pagi.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Karena pagi tak kenal bosan, maka sambutlah dengan senyuman. Selamat pagi kamu; matahariku.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 29 November 2012

Anya's half true story #2

cerita sebelumnya: Anya's half true story

"Cukup! Anya Aby, silahkan duduk." Bu Alfi menghentikan percakapanku dan Aby. kami berdua duduk. Pelajaran pun dilanjutkan, namun fikiranku masih teringat pada kalimat Aby "setahun yang lalu aku menyukaimu namun aku ragu karena kau sedang dibutakan. Ya! Kau yang dibutakan, bukan aku. Dulu kau dibutakan, oleh Ary!". 

Sudahlah Anya, tadikan hanya akting.....

Saat jam istirahat............

"Ada yang ingin kau ceritakan?" Gita, teman sebanguku yang juga teman curhatku bertanya. Sepertinya dia mengerti perubahan sikapku setelah drama dadakan tadi.

"Berharap tadi dia tidak sedang ber-akting?" lanjutnya. Aku mengangguk.

"Kufikir memang dia tadi tidak sedang ber-akting. Kalian seperti membicarakan masalah yang benar-benar nyata. Dan aku tau, apa yang kau utarakan tadi sesuai dengan apa yang kau rasakan sesungguhnya." Dia memang teman yang paling pengertian. 

"Apakah kau berfikir dia tadi tidak sedang ber-akting?" tanyaku.

"Aku tak tau dianya yang pintar berakting atau bagaimana. Menurut yang aku lihat sih, aktingnya natural sekali. Seperti kamu, tampaknya dia juga sedang mengutarakan apa yang ingin dia utarakan padamu."

"Aku pun berharap begitu..."

"Sudaah jangan murung begitu terus. Ayo kita ke kantin, lapar sekali" ajaknya. Akupun tersenyum dan mengikutinya pergi ke kantin.

Menurut kalian, apakah dia tadi sedang ber-akting? Ah, kalian pasti tidak dapat menyimpulkan. Kalian kan hanya membaca ceritaku saja, bagaimana aku ini. haha. Kalian mau tau bagaimana cerita sebelumnya? Baiklah.......

Sudah hampir tiga tahun ini kita bersahabatan. Hanya aku dan Aby. Tidak ada orang lain, hanya kita berdua. Bersahabat. Sampai-sampai teman-teman mengira sebenarnya kami adalah sepasang kekasih. Setiap ada yang mengatakan seperti itu, maka kita dengan tegas menyanggah. Padahal dalam hatiku aku memang ingin menjadi lebih dari sekedar sahabat. Aby sendiri menurutku tidak merasa sama sepertiku, sepertinya dia memang tidak pernah menyukaiku lebih dari seorang sahabat. Karena selama dia bersahabat denganku, sering sekali dia bergonta-ganti pacar. Yah, minimal setengah tahun bisa dua pacar dia punya. Itu yang membuatku benar-benar merasa dia memang tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Sedangkan aku? Selama aku bersahabat dengannya aku tidak pernah mempunyai pacar. Setiap kali dia mendapat pacar baru, dan menggandeng tangannya di depanku. Aku hanya bisa memasang senyum palsu. 

Bagaimana dengan Ary? Siapa dia? 
Maaf. Aku sedang tidak mood menceritakannya. Akan aku ceritakan saat moodku sedang baik ya. 
Maaf aku ceritanya nggantung, hehe. Aku benar-benar tidak mood hari ini.

To be continued.........

Selasa, 27 November 2012

Anya's half true story


"Anya maju sini sebentar, Aby juga maju", bu Alfi, guru Bahasa Indonesiaku memanggilku dan Aby untuk maju kedepan. 

"Hari ini kita akan masuk ke KD baru, yaitu drama. Nah, Anya dan Aby kali ini ibu minta untuk berakting tanpa naskah. Untuk memudahkan kalian berimprovisasi ibu akan memberikan satu tema yang sesuai dengan remaja seperti kalian. yaitu, "perasaan" jelas bu Sri panjang lebar.

Aku cemas, karena aku suka tidak pede saat berdiri di depan orang banyak. Aku melihat Aby, kufikir dia juga akan sama cemasnya sepertiku. Namun, ternyata dia malah sudah membuka mulut dan mengeluarkan kalimat pertamanya.

"Apa benar bahwa kau menyukaiku?"

DEG! kalimat pertama Aby mengagetkanku. Apa maksudnya ini? Aku memandang semua teman-temanku, mereka menunggu responku. Aku semakin cemas. Tenang Anya, ini hanya drama. Tak akan merubah apapun kalau kau mengatakan sesuatu. Aku menenangkan diriku sendiri. 

"Apakah semua perhatianku padamu, setiap saat kita saling bertatapan lama. Setiap kamu memergokiku tersenyum kepadamu saat kamu tengah tertawa kurang untuk membuatmu mengerti atas apa yang kurasakan selama ini?"

Aku sedikit demi sedikit dapat mengendalikan diriku yang gemetar karena grogi.

"Mengapa baru sekarang?" ucap Aby seraya berjalan mendekatiku. 

"Kau memang sudah dibutakan ya? Haha” tawaku meremehkannya. Maaf Aby, ini hanya acting kan? Hehe.

“Dibutakan? Maksudmu? Kau tahu, setahun yang lalu aku menyukaimu namun aku ragu karena kau sedang dibutakan. Ya! Kau yang dibutakan, bukan aku. Dulu kau dibutakan, oleh Ary!”
Mataku terbelalak. Apa-apaan ini. Mengapa sampai menyangkutkan Ary? Memang hampir seluruh temanku tau, dulu aku ‘tergila-gila’ pada Ary. Dibutakan oleh Ary yang tak pernah menganggapku ada. Aku melihat Aby, apakah kau benar-benar berakting, By? Aku kembali cemas. Aku melihat Bu Alfi, namun Bu Alfi tidak juga memberikan isyarat bahwa semua ini akan diakhiri. Baiklah, aku hanya perlu mengikuti alur yang Aby buat.

“Kau juga perlu tahu! Saat aku tau bahwa kau mendekatiku, aku mencoba untuk membuka mataku. Aku mencoba untuk berbalik kearahmu yang awalnya ada dibelakangku. Aku mencoba untuk meninggalkan dia yang membutakanku namun tak pernah menggapaiku. Kau tahu? Aku menyukaimu yang setiap saat melantunkan lagu. Aku sudah mencoba untuk berbalik agar aku dapat mendengarkan lebih jelas lagu yang kau lantunkan. Lagu itu, Your Call. Aku berbalik sembari mendengar lagu itu, I was born…. Namun, saat aku sudah berbalik aku melihatmu berjalan mundur. Masih melantunkan lagu itu, kamu semakin jauh kebelakang. Kata yang kudengar sebelum kau pergi semakin jauh dan menghilang adalah to tell you…. Dan lagu itu belum kamu selesaikan. Aku hafal lagu itu, karena kau sering melantunkannya. Dan kalimat yang seharusnya melanjutkan lagu yang belum selesai itu adalah I love you…..”

To be continued..
Special for you, Aby.