Sabtu, 15 Desember 2012

Anya's half true story #end

cerita sebelumnya: Anya's half true story #4

"Tadaa! Kenalin ini Bita!" teriak Aby. Di sebelahnya berdiri anak perempuan berambut panjang, saat dia tersenyum terlihat dia mempunyai gingsul. Manis sekali.

"Dia sekolah disini? Kelas berapa?" aku baru tau kalau Aby mempunyai adik perempuan.

"Makanya gaul! Jangan cuma didalem kelas mulu'! Ini adek kelas kita kelas 10. Padahal dia alumni SMP mu juga lho Anya."

"Benarkah? Hehe. Aku Anya, senang bertemu denganmu. Kenapa baru sekarang kamu ngenalin dia ke aku?"

"Lha? Bukannya harusnya kamu yang lebih dulu ngenalin dia ke aku? Dia kan adek kelasmu."

"Lho? Dia adekmu kan?"

"Adek? Haha. Bukan, dia pacar baruku Anya." ucap Aby. Lalu dia merangkul Bita sambil tersenyum kepadanya. Bita pun melakukan hal yang sama.

Pacar baru? Pantas. Saja. Dia. Tadi. Hanya. Bilang. Terima. Kasih. Ternyata. Dia. Sudah. Punya. P.A.C.A.R. Aby-Bita. Haha, dari namanya saja sudah cocok begitu. Sudahlah Anya. Biasa sajalah. Memangnya baru sekali kamu jatuh dan luka kayak gini? Kayaknya udah sering juga kan. Jadi sekarang harusnya udah kebal dong. Udah Anya. Tegar ya tegar! Kamu kan tau dia memang orangnya mudah jatuh cinta. Ya memang sih dia udah pernah suka sama kamu. tapi kan itu dulu Anya. DULU. Sekarang kan dia udah nggak suka lagi sama kamu. Nyatanya udah ada yang baru lagi gitu kok. Kenapa? Nyesel? Mau nyalahin siapa? Kalian berdua yang salah. Salah sendiri dari dulu nggak ada yang mau ngomong duluan. Sekarang nyesel kan?

"Anya!" Aby mengguncang-guncang tubuhku. "Kok sekarang jadi sering nglamun sih?"

"Ehehe, nggak papa. Mm.. Selamat ya buat kalian berdua, semoga langgeng." Aku tersenyum kepada keduanya. Palsu. Yaiyalah. "Aku duluan ya, Gita udah selesai kan makannya?" Aku menengok ke Gita yang daritadi diam saja.

"Iya, ayo kita ke kelas. Aby, Bita, kita duluan ya." Gita langsung mendorongku keluar dari kantin. Sesampainya dikelas dia langsung memelukku. Aku tak bisa menahannya. Lalu aku menangis di pelukan Gita.

"A..kku ny..e..s..el gg..it kk..en..apa ngg..akk dda..rri ddu..lu aa..kku bbi..laang ssaa..kit ggit.. ssaaakkiiit" Aku bicara tidak karuan karena sedang menangis.

"Sudah, menangis dulu. Bicaranya nanti saja." Gita menenangkanku.

Setelah beberapa menit aku menangis di pelukan Gita. Akhirnya aku berhenti, mataku merah, aku sesak napas. Namun, aku sudah bisa berbicara dengan lancar.

"Aku nyesel banget git."

"Iya, aku tau kamu nyesel. Tapi, itu udah berlalu Anya. Udah saatnya kamu untuk move on. Memperjuangkan dia yang sekarang udah punya pacar itu sia-sia. Iya, kalo' dia pacarannya bentar. Kalo' setahun? Dua tahun? Atau lebih? Kamu masih mau nunggu dan nggak move on? Sia-sia Anya. Kamu harus move on. Move on nggak harus ke cowok lain kok. Kamu bisa move on ke apapun. Inget kita sekarang udah kelas 3. Kamu nggak mau kan, nilaimu turun cuma gara-gara masalah cinta ini? Kamu harusnya sekarang buktiin sama orang yang udah nyakitin kamu itu, kalo' kamu itu orang yang salah buat ditinggalin. Kamu harus buat orang yang ninggalin kamu, nyesel udah nyia-nyiain kamu."

Aku diam. Bener apa yang dikatakan Gita. Aku nggak boleh terus-terusan larut dalam penyesalan dan kesedihan ini. "Aku memang terluka, tapi luka itu kan bisa diobati. Kalau sudah diobati kan nanti luka itu sedikit demi sedikit akan sembuh. Walaupun akan membekas tapi dari bekas itu kita akan belajar bahwa kita nggak akan ngelakuin hal yang sama yang membuat luka itu kembali muncul." (Ardelia)
Udah saatnya buat bangkit Anya. Obati lukamu, jalani harimu. Masa lalu, jadikan sebagai pengalaman. Jangan lagi ditangisi. Yang dulu ya dulu, kamu hidup di masa kini. Bukan di masa lalu.

Aku tersenyum. "Makasih banyak Git."

"Sama-sama Anya, sudah siap untuk belajar move on?"

"Siap! Lalu, bagaimana denganmu?"

"Bagaimana kau ini, ini kan kisah kita berdua. Anya's half true story. Setengah ceritamu, dan ceritaku. Dan akhirnya. Peran yang bermain disini akan move on. Jadi, karena ini cerita kita berdua. Kita move on bersama-sama."

End.

Nb: Maaf dan terima kasih yang sudah membaca. Cerita ini adalah cerita setengah fiksi dan setengah nyata. Semoga memotivasi kalian. Kalian hidup dimasa kini, bukan dimasa lalu! ;)

-Anggita Fitriana-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar