Jumat, 14 Desember 2012

Anya's half true story #4

cerita sebelumnya: Anya's half true story #3

"Kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi Anya" ucap Aby.

"Maksudmu, kau mau kita berakting disini? Sekarang?"

"Siapa bilang kita akan berakting? Aku tau Anya, tadi kau tidak sedang berakting."

"Tidak. Aku tadi berakting kok!" yakinku sedikit gugup.

"Kau aneh ya. Tadi di kelas disuruh berakting tidak berakting. Sekarang sedang tidak di kelas kau berakting. Kalau kau tak mau mulai duluan ya aku saja yang mulai duluan." Aby tersenyum. Lalu tiba-tiba dia mendekat dan duduk di hadapanku.

"Dulu. Setahun yang lalu. Tak tahu kenapa setiap kali memikirkanmu aku merasa sangat bahagia. Setiap hari yang aku rasakan hanya aku ingin bertemu denganmu. Melihat senyummu, mendengar celotehanmu, merasakan kamu yang selalu dekat denganku. Aku tak tahu apa yang aku rasakan saat itu. Aku bingung. Tapi aku benar-benar menikmatinya. Sampai suatu saat ada pikiran yang melintas dikepalaku. Semua perhatianmu, tatapanmu, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasa... bahwa kau menyukaiku. Namun, aku tidak marah ataupun sedih. Aku bahagia. Dan sejak saat itu, aku mengetahui sesuatu bahwa, aku juga menyukaimu. Aku merasa cemburu setiap kali kau didekati oleh orang lain. Aku merasa cemburu saat ada orang lain yang membuatmu tertawa. Aku merasa cemburu setiap ada yang bersentuhan denganmu. Walaupun itu tidak sengaja." Aby berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi.

"Mungkin aku yang terlalu egois atau aku yang terlalu terobsesi kepadamu. Mungkin juga, itu hasratku untuk memilikimu. Akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diri mengungkapkan perasaanku kepadamu. Namun, saat aku sudah membukatkan tekad dan memberanikan diri. Kau datang dan berkata bahwa kau menyukai Ary. Memang kau bilang hanya kagum. Namun, aku merasa sudah tidak ada peluang lagi. Ary jika dibandingkan denganku sangat berbeda. Aku tak sepintar dia. Aku minder. Selain itu, aku juga tak mau membuat persahabatan kita hancur. Kalau pun kau menerimaku. Lalu suatu saat kita putus, aku takut kita tak akan seperti dulu lagi. Untuk itu aku merelakanmu, dan membiarkan kamu mendekati Ary."

Aku tercengang. Selama ini ternyata dia pernah mempunyai perasaan yang sama denganku. Tapi aku juga kecewa. Alasannya untuk tidak mengatakan perasaannya dulu yang membuatku kecewa. Mungkin memang harusnya daridulu kita tak usah bersahabat. Jadi aku dapat dengan mudah mendapatkanmu. Tanpa ada alasan friendzone.

"Sekarang kau mau jujur? Setelah aku sudah mengatakan semuanya?" tanya Aby.

"Apa lagi yang harus kukatakan? Aku memang sudah mengatakan semuanya saat drama tadi."

"Lalu sekarang? Apakah perasaan itu masih tetap ada? Atau kau justru masih mengejar Ary?"

"Dari awal sudah kukatakan kepadamu, aku tak pernah menyukai Ary. Aku hanya kagum saja. Perasaanku selama ini hanya untukmu. Tak pernah berubah hingga saat ini."

"Benarkah?" tanyanya. Dia tersenyum, lebar sekali. Dia terlihat sangat bahagia. Apakah ini artinya, dia juga masih mempunyai perasaan itu? "Terima kasih." lanjutnnya.

Hanya terima kasih? Oh iya, friendzone. Sudahlah Anya. Tak usah berharap lebih. Dia kan sudah menjelaskan alasannya tadi.

"Oiya, aku ingin mengenalkan seseorang. Kau pasti akan menyukainya." kata Aby.

Siapa?

cerita selanjutnya:#end Anya's half true story #end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar