cerita sebelumnya: Anya's half true story #2
Hai. Masih ingat ceritaku? Sampai mana? Ary? Ary atau Aby? Oh. Ary. Baiklah.
Hai. Masih ingat ceritaku? Sampai mana? Ary? Ary atau Aby? Oh. Ary. Baiklah.
Ary teman satu kelasku dan Aby. Dulu aku sempat kagum dengannya. Dia anak yang pintar. Menyenangkan. Tapi hanya sebatas suka. Nggak bisa melebihi seperti rasaku pada Aby. Saat aku menceritakannya pada Aby. Bahwa aku menyukai Ary. Dia mengatakan "Benarkah? Kalau begitu majulah! Dapatkan dia." Haha. Benar-benar bodoh kalau sampai aku mengharapkan dia akan mencegahku menyukai orang lain dengan alasan dia tak mau kehilanganku. Mana mungkin. Lagipula saat itu kan dia juga sudah punya pacar. Jangan mimpi kau Anya.
Sejak saat itu aku tak bermaksud untuk lebih jauh mendekati Ary. Toh aku hanya sebatas kagum saja. Tapi, Aby terus saja mendekatkan aku dengan Ary. Lama-lama aku merasa jengkel dengannya. Akhinya aku sok-sokan saja mendekati Ary, biar dia puas sekalian. Berminggu-minggu aku tak bicara dengannya lagi. Aku sengaja menyibukkan diriku dengan Ary. Namun, belum lama setelah itu ada kejadian yang mengubah kedekatanku dengan Ary. Siapa lagi kalau bukan akibat si biang kerok itu. Aby. Sudah pasti.
Saat aku dan Ary sedang berjalan ke masjid untuk sholat. Tiba-tiba Aby datang dari belakang dan mendekati kami. Lalu ia berkata, "Anya, bagaimana perkembangan kalian? Sudah 1 bulan lebih dekat belum kau katakan juga perasaanmu padanya?" Setelah itu, dengan seenaknya dia pergi meninggalkan kita berdua. Bagus sekali.
"Maaf Anya. Aku tidak bisa." Tiba-tiba Ary bicara seperti itu kepadaku. Lalu meninggalkanku begitu saja. Drama sekali.
Menurut kalian apa yang kurasakan saat itu? Sedih. Tidak sama sekali. Belum tepatnya. Kenapa belum? Karena setelah itu, Ary langsung menjauhiku. Mungkin malah dia menganggapku musuh. Sikapnya berubah. Saat itu aku merasakan rasanya. Sedih sekali. Bukan karena aku ditolak. Tapi karena aku kehilangan satu temanku. Aby? Aby tetap saja tak mau bicara lagi denganku. Tak tau apa dia sudah membuatku dan Ary menjauh. Dia malah masih mengira aku masih keukeuh mengejar Ary walaupun aku sudah ditolak. Sudah dibilang cuma kagum. Ya terserah jidatnya sajalah.
Setengah tahun lebih aku tak berbicara lagi dengan keduanya. Sekarang aku lebih sering bersama Gita. Sebenarnya dia sudah sekelas dengan aku dan Aby tiga tahun ini. Tapi nggak terlalu dekat. Hihi
Ya hingga tadi ini. Memang aku masih menyukai Aby hingga sekarang. Memang aku sengaja seperti menunjukkan itu secara 'frontal'. Toh, sebentar lagi kita lulus dan mungkin saja nggak ketemu lagi kan. Memang disengaja. Tapi, tetep kaget. Secepat ini dia tahu perasaanku.
"Anya!" bentak Gita. "Iya sih, aku tadi minta temenin makan di kantin. Tapi ya bukan berarti kamu diem terus daritadi. Mikirin apa sih? Sumpah ya, berasa bawa patung berjalan. Dikacangin doang." cerocosnya panjang lebar.
"Maaf, hehe. Tadi lagi mikirin......." kalimatku terputus.
"Sok drama kan, nggantung gitu ngomongnya."
"A..by" lanjutku. Benar, memang aku tadi memikirkannya. Kalian tau. Tapi, kalimatku tadi bukan untuk menjawab pertanyaan Gita. Tapi. Aby. Datang. Menghampiriku. Maksudku. Kita. Dan. Dia. Tersenyum. Kepadaku.
Meleleh. Lebay ya? Habis, lamaa sekali aku tak melihat senyum itu lagi. Tatapan itu lagi. Dan dia makin dekat. Deg. Deg. Deg.
"Bisa kita lanjutin drama kita yang tadi?" kata Aby saat dia sudah sampai dihadapanku.
"Ha?" Maksudnya?
To be continued.....
Ya hingga tadi ini. Memang aku masih menyukai Aby hingga sekarang. Memang aku sengaja seperti menunjukkan itu secara 'frontal'. Toh, sebentar lagi kita lulus dan mungkin saja nggak ketemu lagi kan. Memang disengaja. Tapi, tetep kaget. Secepat ini dia tahu perasaanku.
"Anya!" bentak Gita. "Iya sih, aku tadi minta temenin makan di kantin. Tapi ya bukan berarti kamu diem terus daritadi. Mikirin apa sih? Sumpah ya, berasa bawa patung berjalan. Dikacangin doang." cerocosnya panjang lebar.
"Maaf, hehe. Tadi lagi mikirin......." kalimatku terputus.
"Sok drama kan, nggantung gitu ngomongnya."
"A..by" lanjutku. Benar, memang aku tadi memikirkannya. Kalian tau. Tapi, kalimatku tadi bukan untuk menjawab pertanyaan Gita. Tapi. Aby. Datang. Menghampiriku. Maksudku. Kita. Dan. Dia. Tersenyum. Kepadaku.
Meleleh. Lebay ya? Habis, lamaa sekali aku tak melihat senyum itu lagi. Tatapan itu lagi. Dan dia makin dekat. Deg. Deg. Deg.
"Bisa kita lanjutin drama kita yang tadi?" kata Aby saat dia sudah sampai dihadapanku.
"Ha?" Maksudnya?
To be continued.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar