Jumat, 21 September 2012

Dear You

Ada rasa enggan untuk mengatakan: aku tak cinta lagi. Entahlah! Segalanya tampak tak pasti. Samar kupandang, jejakmu menilas di jemari pagi. 

"Masih mampukah kusentuh magismu dalam rindu yang mengurai segalanya? Atau cukup sampai disini?" Aku masih saja berharap kamu jangan pergi.

"Bahkan, aku rela melupakan mimpi-mimpiku... dan dia." | "Lalu, aku ini apa?" | "Kenyataan cinta yang kubela." |

"Apa pilihanmu kini?" "Inilah pilihanku: mengingkari cinta dengan membiarkan kecewa membentur tanya -meski tanpa jawab.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maaf, bertubi-tubi maaf.

Maaf, sebaris waktu telah mencuri kelengahanku. Sejenak, berpaling dari matamu. 
Selain maaf, aku tak punya bekal lain untuk mengembalikan senyumanmu. 
Maaf kuiba. Tulus caraku berlindung dari bencimu yang bertakhta. 
Untuk serapah kata yang tak sengaja mencederai perasaanmu, maafkan aku.
Jika kesalahan yang berulang ini tak pantas mendapatkan maafmu, maafkan aku.
Sebukit salahku, sebesar inginku menjura maaf kepadamu.
Dan, maafku bukan pura-pura apalagi tipu daya. Jika tak percaya, tinggalkan aku sendiri dengan penyesalanku.

..,A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar