Senin, 10 Desember 2012

Anya's half true story #3

cerita sebelumnya: Anya's half true story #2

Hai. Masih ingat ceritaku? Sampai mana? Ary? Ary atau Aby? Oh. Ary. Baiklah.

Ary teman satu kelasku dan Aby. Dulu aku sempat kagum dengannya. Dia anak yang pintar. Menyenangkan. Tapi hanya sebatas suka. Nggak bisa melebihi seperti rasaku pada Aby. Saat aku menceritakannya pada Aby. Bahwa aku menyukai Ary. Dia mengatakan "Benarkah? Kalau begitu majulah! Dapatkan dia." Haha. Benar-benar bodoh kalau sampai aku mengharapkan dia akan mencegahku menyukai orang lain dengan alasan dia tak mau kehilanganku. Mana mungkin. Lagipula saat itu kan dia juga sudah punya pacar. Jangan mimpi kau Anya.

Sejak saat itu aku tak bermaksud untuk lebih jauh mendekati Ary. Toh aku hanya sebatas kagum saja. Tapi, Aby terus saja mendekatkan aku dengan Ary. Lama-lama aku merasa jengkel dengannya. Akhinya aku sok-sokan saja mendekati Ary, biar dia puas sekalian. Berminggu-minggu aku tak bicara dengannya lagi. Aku sengaja menyibukkan diriku dengan Ary. Namun, belum lama setelah itu ada kejadian yang mengubah kedekatanku dengan Ary. Siapa lagi kalau bukan akibat si biang kerok itu. Aby. Sudah pasti.

Saat aku dan Ary sedang berjalan ke masjid untuk sholat. Tiba-tiba Aby datang dari belakang dan mendekati kami. Lalu ia berkata, "Anya, bagaimana perkembangan kalian? Sudah 1 bulan lebih dekat belum kau katakan juga perasaanmu padanya?" Setelah itu, dengan seenaknya dia pergi meninggalkan kita berdua. Bagus sekali.

"Maaf Anya. Aku tidak bisa." Tiba-tiba Ary bicara seperti itu kepadaku. Lalu meninggalkanku begitu saja. Drama sekali.

Menurut kalian apa yang kurasakan saat itu? Sedih. Tidak sama sekali. Belum tepatnya. Kenapa belum? Karena setelah itu, Ary langsung menjauhiku. Mungkin malah dia menganggapku musuh. Sikapnya berubah. Saat itu aku merasakan rasanya. Sedih sekali. Bukan karena aku ditolak. Tapi karena aku kehilangan satu temanku. Aby? Aby tetap saja tak mau bicara lagi denganku. Tak tau apa dia sudah membuatku dan Ary menjauh. Dia malah masih mengira aku masih keukeuh mengejar Ary walaupun aku sudah ditolak. Sudah dibilang cuma kagum. Ya terserah jidatnya sajalah. 

Setengah tahun lebih aku tak berbicara lagi dengan keduanya. Sekarang aku lebih sering bersama Gita. Sebenarnya dia sudah sekelas dengan aku dan Aby tiga tahun ini. Tapi nggak terlalu dekat. Hihi

Ya hingga tadi ini. Memang aku masih menyukai Aby hingga sekarang. Memang aku sengaja seperti menunjukkan itu secara 'frontal'. Toh, sebentar lagi kita lulus dan mungkin saja nggak ketemu lagi kan. Memang disengaja. Tapi, tetep kaget. Secepat ini dia tahu perasaanku.

"Anya!" bentak Gita. "Iya sih, aku tadi minta temenin makan di kantin. Tapi ya bukan berarti kamu diem terus daritadi. Mikirin apa sih? Sumpah ya, berasa bawa patung berjalan. Dikacangin doang." cerocosnya panjang lebar.

"Maaf, hehe. Tadi lagi mikirin......." kalimatku terputus.

"Sok drama kan, nggantung gitu ngomongnya."

"A..by" lanjutku. Benar, memang aku tadi memikirkannya. Kalian tau. Tapi, kalimatku tadi bukan untuk menjawab pertanyaan Gita. Tapi. Aby. Datang. Menghampiriku. Maksudku. Kita. Dan. Dia. Tersenyum. Kepadaku.

Meleleh. Lebay ya? Habis, lamaa sekali aku tak melihat senyum itu lagi. Tatapan itu lagi. Dan dia makin dekat. Deg. Deg. Deg.

"Bisa kita lanjutin drama kita yang tadi?" kata Aby saat dia sudah sampai dihadapanku.

"Ha?" Maksudnya? 

To be continued.....

-Anya-


cerita selanjutnya:#4 Anya's half true story #4

Sabtu, 01 Desember 2012

Curhat

Hai. Selamat sabtu malam atau malam minggu.
Malam ini, aku ngrasa ada yang aneh. Ngerasa ada yang belum lengkap. Ngerasa ada yang hilang,
Nggak tau itu apa. Mungkin, karena dia. Ya, mungkin dia ya yang hilang.
Bener ya apa yang orang bilang. Penyesalan itu selalu datang terakhir. 
Orang juga bilang karma itu selalu ada. Bener.
Penyesalan. Karma.
Dua-duanya lagi aku rasain saat ini. Bukan cuma malem ini sih, udah sejak lama.
Nyesel. Karena aku telat. Aku terlalu cuek. Aku nggak bisa ngambil keputusan dengan baik.
Udah jelas dulu ada yang membuka celah. Aku malah masih sibuk ngetuk-ngetuk pintu yang nggak pernah kebuka.
Disaat tanganku udah sakit karena terlalu lama ngetuk pintu itu dan mau masuk kepintu yang satunya.
Ternyata pintu itu udah ketutup juga. 
Aku terjebak. Ditemani si penyesalan. Ditertawakan pula oleh karma.
Ngenes. Ha

Iya. Aku tau nyesel terus juga nggak bakal maju kan?
Aku juga udah berusaha buat maju lagi kok. Cuma kali ini pelan-pelan aja. Dianya aja masih maju mundur *eh kata siapa git, pede amat.
Yaudah git. Jangan lama galaunya. Besok masih ujian. Semangat yuk! Yang terpenting itu buat orang disekitarmu bangga dulu! Chibi Chibi Hap Hap Hap (^,^)9 (?)

Jumat, 30 November 2012

Dear You

"Selamat Malam, Cinta"

Sayangku, mataku tak bisa terpejam, pikiranku mengelana entah kemana. Mungkin, saat ini sedang tertuju ke arahmu di ujung dunia sana. Hanya sekedar untuk memuaskan rasa penasaran, "Mimpi apa kamu malam ini? Apakah tentangku.... atau dia?"

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maafkan untuk kebisuanku. Hanya karena tak mauku tersilap kata demi amarah durja untuk kesekian kali. Baikmu kupinta dalam doa malam ini.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semoga kau mendapatkan bulannya. Aku hanya ingin bermimpi saja, tentangmu.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Selamat Pagi, Mata"

Selamat pagi, Mata.
Apa aku terlambat mengucapkannya?

Pagi selalu sempurna untuk sebuah awal yang terjaga.
Harapan itu, dan segala apapun tentangmu.
Dulu, ada satu keajaiban yang membangunkanku dari ruang hampa, dan kamulah orangnya.
Kini, aku masih percaya, akan ada keajaiban kedua.
Siapa lagi kalau bukan kamu muaranya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cukup dengan memikirkanmu, pagiku mengucap selamat tinggal pada basi. Selamat pagi. Jaga diri, jaga hati.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semua masih tentangmu. Mimpi itu, harapan itu. Tak ada yang berubah. Setiap incinya begitu berarti. Selamat pagi.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Karena pagi tak kenal bosan, maka sambutlah dengan senyuman. Selamat pagi kamu; matahariku.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 29 November 2012

Anya's half true story #2

cerita sebelumnya: Anya's half true story

"Cukup! Anya Aby, silahkan duduk." Bu Alfi menghentikan percakapanku dan Aby. kami berdua duduk. Pelajaran pun dilanjutkan, namun fikiranku masih teringat pada kalimat Aby "setahun yang lalu aku menyukaimu namun aku ragu karena kau sedang dibutakan. Ya! Kau yang dibutakan, bukan aku. Dulu kau dibutakan, oleh Ary!". 

Sudahlah Anya, tadikan hanya akting.....

Saat jam istirahat............

"Ada yang ingin kau ceritakan?" Gita, teman sebanguku yang juga teman curhatku bertanya. Sepertinya dia mengerti perubahan sikapku setelah drama dadakan tadi.

"Berharap tadi dia tidak sedang ber-akting?" lanjutnya. Aku mengangguk.

"Kufikir memang dia tadi tidak sedang ber-akting. Kalian seperti membicarakan masalah yang benar-benar nyata. Dan aku tau, apa yang kau utarakan tadi sesuai dengan apa yang kau rasakan sesungguhnya." Dia memang teman yang paling pengertian. 

"Apakah kau berfikir dia tadi tidak sedang ber-akting?" tanyaku.

"Aku tak tau dianya yang pintar berakting atau bagaimana. Menurut yang aku lihat sih, aktingnya natural sekali. Seperti kamu, tampaknya dia juga sedang mengutarakan apa yang ingin dia utarakan padamu."

"Aku pun berharap begitu..."

"Sudaah jangan murung begitu terus. Ayo kita ke kantin, lapar sekali" ajaknya. Akupun tersenyum dan mengikutinya pergi ke kantin.

Menurut kalian, apakah dia tadi sedang ber-akting? Ah, kalian pasti tidak dapat menyimpulkan. Kalian kan hanya membaca ceritaku saja, bagaimana aku ini. haha. Kalian mau tau bagaimana cerita sebelumnya? Baiklah.......

Sudah hampir tiga tahun ini kita bersahabatan. Hanya aku dan Aby. Tidak ada orang lain, hanya kita berdua. Bersahabat. Sampai-sampai teman-teman mengira sebenarnya kami adalah sepasang kekasih. Setiap ada yang mengatakan seperti itu, maka kita dengan tegas menyanggah. Padahal dalam hatiku aku memang ingin menjadi lebih dari sekedar sahabat. Aby sendiri menurutku tidak merasa sama sepertiku, sepertinya dia memang tidak pernah menyukaiku lebih dari seorang sahabat. Karena selama dia bersahabat denganku, sering sekali dia bergonta-ganti pacar. Yah, minimal setengah tahun bisa dua pacar dia punya. Itu yang membuatku benar-benar merasa dia memang tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Sedangkan aku? Selama aku bersahabat dengannya aku tidak pernah mempunyai pacar. Setiap kali dia mendapat pacar baru, dan menggandeng tangannya di depanku. Aku hanya bisa memasang senyum palsu. 

Bagaimana dengan Ary? Siapa dia? 
Maaf. Aku sedang tidak mood menceritakannya. Akan aku ceritakan saat moodku sedang baik ya. 
Maaf aku ceritanya nggantung, hehe. Aku benar-benar tidak mood hari ini.

To be continued.........

Selasa, 27 November 2012

Anya's half true story


"Anya maju sini sebentar, Aby juga maju", bu Alfi, guru Bahasa Indonesiaku memanggilku dan Aby untuk maju kedepan. 

"Hari ini kita akan masuk ke KD baru, yaitu drama. Nah, Anya dan Aby kali ini ibu minta untuk berakting tanpa naskah. Untuk memudahkan kalian berimprovisasi ibu akan memberikan satu tema yang sesuai dengan remaja seperti kalian. yaitu, "perasaan" jelas bu Sri panjang lebar.

Aku cemas, karena aku suka tidak pede saat berdiri di depan orang banyak. Aku melihat Aby, kufikir dia juga akan sama cemasnya sepertiku. Namun, ternyata dia malah sudah membuka mulut dan mengeluarkan kalimat pertamanya.

"Apa benar bahwa kau menyukaiku?"

DEG! kalimat pertama Aby mengagetkanku. Apa maksudnya ini? Aku memandang semua teman-temanku, mereka menunggu responku. Aku semakin cemas. Tenang Anya, ini hanya drama. Tak akan merubah apapun kalau kau mengatakan sesuatu. Aku menenangkan diriku sendiri. 

"Apakah semua perhatianku padamu, setiap saat kita saling bertatapan lama. Setiap kamu memergokiku tersenyum kepadamu saat kamu tengah tertawa kurang untuk membuatmu mengerti atas apa yang kurasakan selama ini?"

Aku sedikit demi sedikit dapat mengendalikan diriku yang gemetar karena grogi.

"Mengapa baru sekarang?" ucap Aby seraya berjalan mendekatiku. 

"Kau memang sudah dibutakan ya? Haha” tawaku meremehkannya. Maaf Aby, ini hanya acting kan? Hehe.

“Dibutakan? Maksudmu? Kau tahu, setahun yang lalu aku menyukaimu namun aku ragu karena kau sedang dibutakan. Ya! Kau yang dibutakan, bukan aku. Dulu kau dibutakan, oleh Ary!”
Mataku terbelalak. Apa-apaan ini. Mengapa sampai menyangkutkan Ary? Memang hampir seluruh temanku tau, dulu aku ‘tergila-gila’ pada Ary. Dibutakan oleh Ary yang tak pernah menganggapku ada. Aku melihat Aby, apakah kau benar-benar berakting, By? Aku kembali cemas. Aku melihat Bu Alfi, namun Bu Alfi tidak juga memberikan isyarat bahwa semua ini akan diakhiri. Baiklah, aku hanya perlu mengikuti alur yang Aby buat.

“Kau juga perlu tahu! Saat aku tau bahwa kau mendekatiku, aku mencoba untuk membuka mataku. Aku mencoba untuk berbalik kearahmu yang awalnya ada dibelakangku. Aku mencoba untuk meninggalkan dia yang membutakanku namun tak pernah menggapaiku. Kau tahu? Aku menyukaimu yang setiap saat melantunkan lagu. Aku sudah mencoba untuk berbalik agar aku dapat mendengarkan lebih jelas lagu yang kau lantunkan. Lagu itu, Your Call. Aku berbalik sembari mendengar lagu itu, I was born…. Namun, saat aku sudah berbalik aku melihatmu berjalan mundur. Masih melantunkan lagu itu, kamu semakin jauh kebelakang. Kata yang kudengar sebelum kau pergi semakin jauh dan menghilang adalah to tell you…. Dan lagu itu belum kamu selesaikan. Aku hafal lagu itu, karena kau sering melantunkannya. Dan kalimat yang seharusnya melanjutkan lagu yang belum selesai itu adalah I love you…..”

To be continued..
Special for you, Aby.